@saad_alkhathlan - Prof. Dr. Sa’ad Al Khathlan, dosen di King Saud University (KSU) Riyadh, Saudi Arabia.
Bila kita berpikir dengan logika umum, segala persoalan akan terlihat rumit. Karena pandangan mata umum seringkali terhalang oleh ambisi syahwat.
Sehingga banyak sisi-sisi kebenaran yang tertutupi.
Bayangkan, untuk menghadapai masalah sepelik apapun, kebanyakan kita manusia tetap fight.
Tapi, kalau sudah berhadapan dengan persoalan, ‘cara ini haram, harus dihindari,’ kita seolah-olah kehilangan akal.
Seakan Allah tak cukup menyediakan cara-cara halal bagi manusia untuk mengais rejeki.
Barangsiapa yang betakwa kepada Allah, niscata Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberi rejeki dari arah yang tiada disangka-sangka.
Bukan keramaian kota yg aku rindukan.
bukan pula hiburan atau pusat belanja yg besar dan lengkap.
Bukan restaurant, bukan pilihan menu makanan yg banyak.
Bukan.. Bukan..
Sebesar apa rinduku pada rumah,
Sedalam apa rinduku pada keluarga,
Tidaklah lebih besar daripada rinduku menghadiri mejelis.
Tidaklah lebih besar daripada rinduku duduk bersama saudari-saudariku yang bersemangat.
Tidak kah berdua lebih baik daripada sendiri?
Tidak kah bersama-sama lebih baik daripada berdua?
Semoga ilmu yg sangat sedikit ini,
cukup dapat membuatku berdiri dan bertahan.
Sungguh, hanya untuk itu saja rasanya tak cukup.
Kalaulah hanya duduk di majelis ilmu, sedangkan hati ntah dimana.. sudah lah kita mendapatkan syafa’at nya, bagaimana pula jika hati pun kita hadirkan.
Begitu lah besatnya faedah dari majelis ilmu,
wajarkah kalau aku sangat merindukan itu?
•Elhami Dinda Sakrie•
Hati dan rindu.
Jiwa dan mulai hampa.
Kering dan haus.
Kota ramai namun terasa sepi, mati.
Jiwa ini ternyata haus..
Hati ini ternyata mulai gersang.
Dikala tidak sabar lg menghadapi ujian kehidupan,
demikian pula perkataan dan raut muka tidak manis lagi.
Tersadar,
jiwa ini mulai hampa.
hati ini mulai gersang.
Lama tak menangisi dosa, terlalu sering menangisi dunia.
Lupa bersyukur, tak pernah lupa terus meminta.
-sepi di keramaian kota, ramai tak sejalan, kota mati-
Elhami Dinda Sakrie.
mbo, 20:20 25 Mei 2012
“Maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisaa: 34)
Keimanan, itulah landasan utama untuk menjadikan seseorang sebagai orang yang shalih. Sehingga, secantik apapun seorang wanita, sekaya apapun dia, sebaik apapun tingkah lakunya, jika dia bukan orang yang beriman, maka dia jelas bukan wanita shalihah.
Wanita shalihah adalah wanita yang beriman kepada Allah sebagai Rabb-Nya, beriman kepada Muhammad Shalallaahu ‘alaihi Wasalam sebagai nabi dan rasul, dan meridhai Islam sebagai agama. Keimanan ini akan nampak pengaruhnya secara lisan, amalan dan keyakinan.
Wanita shalihah adalah wanita yang bertauhid kepada Allah, beribadah hanya kepada Allah tidak kepada yang lain, menjauhi kesyirikan dan berbagai sarana yang menghantarkan pada kesyirikan.